21 February 2014

Perempuan Penjual Bensin



SIANG tadi gak biasa, lupa cek minyak sepeda motor. Spidometernya, tumben juga gak saya perhatikan. Karena buru-buru jemput anak-anak, sudah agak telat 20 menit. Lagi asyik bikin kandang ayam yang baru dibeli beberapa minggu lalu. Ada 3 ekor ayam yang suara kokoknya cukup jitu bangunin pagi.

Meski tinggal di kota, ayam ini masih berperilaku ayam kampung. Tepat waktu saat berkokok, beda dgn ayam kota yang tak tau siang dan malam. Suara kukuruyuknya, gak lagi bisa jadi petanda waktu.

Tiba di atas jembatan Lamnyong, "cescess cess breeeddddd," motor tiba-tiba berhenti. Wah, habis total, saat saya buka tank minyak. Jarum indikatornya sudah kandas di warna merah. Mundur, balik arah ada kedai kecil. Terlihat drum minyak dan jerigen bertuliskan bensin. "Kak, tolong isi 2 liter, nanti saya putar ke rumah, balik sini. Saya kasih uannya. Lupa ini gak bawa dompet buru-buru tadi," kata saya.

Perempuan penjual minyak itu, tanpa saya duga minta KTP. "Bapak simpan KTP di kedai saya, atau handphone" ujarnya.

Hah!! Saya terkejut. "Kak, itu rumah saya. Apa saya harus simpan KTP. Apa gak percaya," kataku sambil menunjuk rumah.

Perempuan itu, kemudian mengatakan sudah banyak yang menipunya membeli pura-pura tertinggal dompet dan alasan lainnya. "Tiap minggu saya cuci motor di sini, dan saya tau pemilik lahan yang kaka jualan di sini," ujarku berusaha meyakinkan perempuan itu.

Ia pun luluh, meski tetap memperlihatkan wajah kecut. kemudian mengambil canting berisi minyak lalu mengisi sepeda motorku. Tetapi ia masih tak yakin. "Udah kak, tenang. Kakak cari ke rumah dan tanya nama saya, pasti tau semua, itu rumah saya, jika saya menipu. Ini harus jemput anak buru-buru." Kata saya meyakinkan dia.

Ia terlihat tetap ketus dan menyimpang kecurigaan. Alahmakk.. Baru sadar saya jemput anak belum ganti baju, habis jadi tukang dadakan membuat kandang ayam. Baju terlihat kotor.

Saya bergegas jemput anak, dari spion saya lihat pandanganya mengikuti arah sepeda motor saya. "Wah, memang dia curiga sama saya, " batinku.

Tiba di rumah saya ambil dompet. Saya tarik Rp 20.000. Saya bergegas ke tempat perempuan penjual minyak itu. Dari rumah saya sudah berniat tidak mengambil uang kembaliannya. Sebagai tanda terima kasih sudah bantu saya. "Padum peng kak," tanyaku. Dia jawab 14.000 katanya. Lalu saya serahkan uang Rp20.000.

Perempuan penjual minyak itu, terlihat membuka laci mengambil uang kembalian. "Hana peu kak, cok mandum. Terimong Geunaseh, meuah ka merepotkan," kataku sambil menstater sepeda motor dan kembali ke rumah. # [ilustrasi foto/kompas.com]

---------------------------------------
* Banyak orang yang menipunya selama ini, membuat dia ragu berbuat kebaikan, mungkin. Termasuk kepada saya. Apalagi, ya hanya kedai kecil yang untungnya hanya mungkin hanya 500 per "liter minyak.
* Jika anda pedagang, akankah seperti perempuan itu, atau tetap husnuzan.

Duh, Hariri!


PRIHATIN! kata ini yang pantas diucapkan ketika melihat tayangan Hariri Abdul Aziz Azmatkhan menginjak kepala Kang Entis, seorang operator sound system. Peristiwa tang terekam dengan jelas itu, berulang-ulang saya diputar, melalui laman Youtube untuk memastikan dialog apa yang berlangsung ketika peristiwa itu terjadi. 

Dada ini terasa sesak, menyaksikan ulah Hariri, ustaz muda yang tenar setelah ikut audisi dai dan malang melintang di dunia infotainment. Keprihatinan semakin membuncah saat membaca riwayat hidup ustaz muda ini di beberapa media online yang rata-rata mengutip dari ratusholawat.blogspot.com.

Berlaku seperti para petarung di smackdown, Hariri telah memamerkan kekonyolannya sebagai seorang ustaz, dan seorang pengasuh pondok pesantren. Perilaku Hariri, sebenarnya tidak hanya melukai perasaan umat Islam dan mereka yang menonton ulah Hariri di Youtube, lebih dari itu, apa yang dilakukan Hariri telah menyakiti trah para kiyai tatar Pasundan yang terkenal dengan kelembutan dan wibawa sebagai ulama. Duh, Hariri!

Hariri telah melakukan keburukan cara dakwahnya di muka umum, ibu-ibu, bapak-bapak dan semua hadirin termasuk anak kecil terlihat dengan jelas menyaksikan ulah Hariri menginjak kepala Kang Entis. Hariri layaknya algojo, bahasa Sundanya kasar saat menegur Kang Entis di muka umum. Jauh dari perilaku teladan kita, Nabi Muhammad Saw yang senantiasa menebarkan kebaikan dan rahmat ke manapun melangkah. Ia adalah teladan yang menyemai hidayah dalam setiap aktivitasnya. Mengajarkan kelembutan dalam bertutur kata dan memberikan rasa aman dalam setiap perilakunya.

Kasus Hariri menginjak kepala Kang Entis, adalah persoalan dari sekian banyak persoalan yang juga banyak diperlihatkan para ustaz dadakan yang tenar melalui media infotainment. Jauh sebelum Hariri, kita juga sempat disuguhkan tayangan kisah cinta, perceraian seorang ustaz, dan permintaan honor ceramah seorang ustaz selebriti yang cukup pantastis saat berceramah dengan komunitas para pekerja muslim Indonesia di luar negeri.

Kita juga prihatin dengan ustaz-ustaz selebritis yang melabrak etika berdakwah, menyampaikan kebenaran kepada jamaah. Alih-alih memberi aura perubahan, kehadiran ustaz selebriti beberapa di antaranya justru mencitrakan kehidupan glamour tak beda dengan kehidupan para seleb bukan ustaz.

Hariri yang bertabayun dengan Kang Entis di salah satu acara stasiun televisi swasta, tidak cukup sebagai obat penawar bagi kegelisahan dan keprihatinan umat saat ini pada kasus-kasus ustaz dengan perilaku nyeleneh, seperti yang dipertontonkan Hariri.
Panggilan ustaz
Kasus Hariri menjadi pelajaran bagi kita untuk kembali melakukan perenungan untuk lebih selektif dalam menyematkan kata "ustaz". Sebab kata ini dapat ditabalkan untuk seseorang yang berilmu dan menjadi panutan di masyarakat. Ustaz adalah panggilan untuk seorang guru, dalam bahasa Arab kata ini berasal dari kata "ustazun".

Di tanah air, kita cenderung menyematkannya bagi mereka yang biasa menyampaikan pesan moral dari agama, alias muballigh. Seseorang dengan sebutan ustaz, tentunya telah mendermakan semua hidup bagi kemaslahatan umat. Perilaku dan kesehariannya menjadi teladan bagi umat di mana saja berada. Menjadi seorang ustaz, tentu wajib menahan diri untuk tidak menyakiti orang lain, sekecil apa pun. Teladanilah Rasulallah Saw, yang tetap sabar dan memanjatkan doa untuk kaum yang menyakitinya di masa awal berdakwah.

Jika akhlak ini tidak lagi dapat dijaga oleh seorang ustaz, di mana ia melabrak etika. mempertontonkan keangkuhan di muka jamaah yang sedang diceramahinya, berbuat kekerasan saat menyampaikan kebaikan, maka kita patut mengajukan kembali sebuah pertanyaan, masih layakkah kita memanggilnya ustaz?  Duh Hariri!

03 January 2014

One Day One Juz

SEMULA saya ragu dapat ikut serta pada program One Day One Juz (ODOJ), tetapi karena yang mengajak saya bergabung adalah seseorang yang super sibuk, maka timbul pertanyaan saat itu dalam benak saya "Dia saja sempat dan bisa, kenapa saya tidak. Apalagi saya masih tergolong muda jika dibanding dengan yang mengajak saya."

Saat didaftarkan, saya belum mengerti apa-apa. Saya kira saya harus membaca Alquran satu juz setiap hari dan melaporkan bacaan via Blackberry Messenger di mana saya bergabung dalam satu grup berjumlah 30 orang. Pada hari di mana saya didaftarkan pada "Grup 464", tanggal 1 Januari 2014 saya langsung lapor ke admin, bahwa hari itu saya sudah tunaikan bacaan Alquran 1 Juz dan mulai dari juz pertama. Namun, kemudian saya tahu bahwa grup saya itu ternyata membagi bacaan untuk setiap peserta 1 Juz yang harus diselesaikan dan diberi waktu hingga pukul 21.00 Wib setiap harinya.

Semula saya merasa asing dengan istilah ODOJ, kedengarannya janggal dan lucu. Melihat status BB beberapa teman, saya baru sadar bahwa itu singkatan dari One Day One Juz. Saking bersemangat, bakda Maghrib di sela-sela istirahat bekerja, saya curi waktu untuk selesaikan bacaan 1 Juz dan hanya memerlukan waktu 1 jam, akhirnya selesai juz pertama, saat itu. Ada perasaan lain dan beban seperti terasa ringan. Yang jelas sulit dilukiskan dalam kata-kata, pokoknya begitu deh, sesuatu pisan!


Sambilan bekerja, saya mencoba cari tahu  informasi via internet tentang gerakan ini dan menemukan alamat www.onedayonejuz.org. Di situ saya mendapat banyak pengetahuan dan informasi lengkap terkait gerakan ini. Anehnya, gerakan ODOJ ini saat saya ikutserta justru belum diluncurkan, masih tahap sosialisasi tetapi pesertanya sudah mencapai 5.000 orang lebih. Secara resmi ODOJ akan dilounching tanggal 11 Mei 2014 bertepatan dengan 11 Rajab 1435 H di Istiqlal, Jakarta dengan jumlah peserta 11.100 odojers.

Tapi, hingga Selasa (1/1/2014) malam jumlah anggota sudah mencapai 444 grup peserta laki-laki dan 1.111 grup peserta perempuan. Total 1.555 grup atau sebanyak 46.650 peserta yang biasa disebut sebagai odojer.
Masing-masing grup telah mulai beraktivitas membaca Alquran satu juz setiap hari. Mereka tergabung dalam grup yang dipandu seorang admin, misal pada grup Blackberry Mesengger (BBM) atau Whatsapp.

One Day One Juz adalah program yang diinisiasi oleh Rumah Qur’an untuk memfasilitasi dan mempermudah umat Islam agar dapat membiasakan tilawah Alquran 1 juz sehari dengan memanfaatkan instant messenger.  Meski tergolong masih baru, namun gerakan ini menjukkan pertumbuhan yang pesat. Admin One Day One Juz, Ricky Adrinaldi, melalui pesan dalam grup ODOJ beberapa waktu lalu, menuliskan hanya dalam waktu 3 minggu gerakan ini sudah diikuti oleh 5.000 peserta.

“Rasa-rasanya baru kemarin ODOJ cuman berjumlah puluhan orang bahkan untuk mengaktifkan sebuah grup ikhwan saja butuh waktu 15 hari. Sekarang dalam waktu kurang lebih hanya 3 minggu jumlah member sudah hampir menyentuh angka 5000. Subhanallaah, hanya dalam waktu 3 minggu,” tulis Ricky yang saya baca pada salah satu situs dari banyak situs yang mengutif tulisan Ricky.

ODOJ pada 2 Januari 2014 juga telah menyempurnakan layanan gerakan tersebut, tim IT ODOJ kemudian merampungkan metode pendaftaran satu pintu melalui web. Kamis, tepat pukul 00.00 WIB aplikasi pendaftaran ODOJ telah dilaunching.

Odojer Aceh

Nah, karena saya menetap di Aceh lalu saya hubungi beberapa Odojer Aceh yang saya kenal dalam grup tilawah. Nourman Hidayat, adalah orang pertama yang mengajak saya ikut serta di gerakan ini. Odojer dari Aceh Besar yang sudah saya kenal sejak 2005 ini, ia berbagi kesan dengan saya selama ikut program ini. Nourman merasakan betul manfaat bergabung di gerakan ini dan menilai gerakan ini sebagai anugerah bagi umat Islam.

“Gerakan ini adalah anugerah Allah Swt kepada kaum muslimin di Indonesia dan Aceh khusunya. Anak saya yang sepuluh tahun juga sudah bergabung di sini di grup 434,” ujar Nourman Hidayat yang tergabung dalam grup 44.

Dengan semangat '45 ia kirim sms ke saya, begini isinya : Gerakan ini menjadi pertanda akan semakin bergairahnya orang membaca Alquran. Menurutnya, fenomena baru dunia saat ini adalah dengan mudah kita menemui anak muda, artis, mahasiswa, pekerja yang membaca Alquran di ruang publik. Di bandara, kantor, pesawat dan di mana saja kita dengan mudah menjumpai mereka yang membaca Alquran.


Tak puas dengan kesan Nourman Hidayat, saya hubungi Teuku Farhan yang juga tergabung di grup 419. Pengakuan dia sungguh sangat jujur. Ia mengakui ada perbedaan sebelum dirinya gabung di ODOJ. “Dulu baca cuma dua lembar, baca 1 Juz teras berat sekali dan cuma Ramadhan saja. Sekarang alhamdulillah lebih terasa ringan menyelesaikan 1 juz. Mudah-mudahan terus istikamah setiap hari,” ujarnya sambil mengakui bahwa sebelum bergabung tidak terlalu disiplin membaca Alquran.

Suatu keanehan?

Hari ketiga saya ikut dan selesai menamatkan setiap tilawah yang diamanahkan oleh admin di grup, yakni Suardika Putra. Di hari ketiga itu pula saya bertanya kepada beberapa Odojer tentang kesan mereka ikut di program itu. Rata-rata ada pengakuan tentang sebuah situasi yang sulit diterima akal ketika dengan ikhlas mereka melaksanakan program ini.

Kawan saya di lain grup--tak saya sebutkan namanya-- ia bercerita, tiba-tiba mengalami suatu kejadian di mana orang-orang membayar hutang dengan tiba-tiba, tidak seperti biasanya. Begitu pun, ketika saya tanya ke teman lain, kabarnya, tidak hanya itu. Ada banyak kemudahan yang Allah Swt berikan kepada para odojer yang ikhlas dan berusaha istikamah.

Seorang ibu di Aceh Besar, Iim Fatimah, juga mengirim pesan via BBM. Ia mengaku sudah lama menderita migrain yang tak kunjung sembuh, dan mudah memarahi anak-anak di rumah jika sedang banyak pekerjaan. "Subhanallah dengan mendisiplinkan membaca Alquran, Alhamdulillah dengan sendirnya sekarang migrainnya sudah sembuh dan lebih dapat mengendalikan amarah terutama kepada anak-anak," tulis ibu tiga orang anak ini.

Ah... ini kejadian tidak masuk akal dan akan berujung fitnah jika saya dan Anda tidak bijak memahami keadaan ini. Tetapi saya yakin, inilah keberkahan dalam Alquran yang kita baca itu. Dan saya pun mendapati hal serupa, ketika tiba-tiba ada orang menelpon saya menawarkan pekerjaan editing naskah dengan nilai cukup besar. Terburu-buru meminta saya dan melakukan penawaran, lalu menyetujui tawaran saya. Alhamdulillah...

Sahabat dan teman sekalian yang membaca tulisan ini, jangan terlalu mendalami ulasan tulisan yang terakhir ini.  Bisa saja hanya kebetulan dan mungkin tidak akan Anda alami, sebagaimana dialami odojers lainnya. Memahami ini semua, saya teringat buku yang berisi soal melejitkan rezeki dengan dhuha dan tahajud. Menjalani tips di buku tersebut, memang membuka banyak kemudahan dan tanpa sadar, kita mendapati semua keinginan.

Karena kita juga pernah belajar tentang niat, maka saya sarankan jika Anda ingin ikut program ODOJ, luruskan niatnya terlebih dahulu. Niatkan semata ingin disiplin membaca Alquran. Soal keajaiban setelah itu, saya yakin ODOJ  hanyalah salah satu bagian dari cara mendisiplinkan kita dalam banyak hal. Dengan disiplin dalam bekerja dan disiplin menghargai waktu, ternyata dapat membawa perubahan kepada diri kita. Salah satunya, kemudahan rezeki.

Di sini, tentu mudah dipahamii, bahwa rezeki dan beragam kemudahan akan datang kepada mereka yang disipilin dalam hidup. Rezeki tidak datang untuk mereka yang melalaikan waktu, apalagi melalaikan ibadah. Nah, ini yang dapat saya bagi untuk Anda. Mau ikutan disipilin dan  menjadikan Alquran bacaan setiap hari, yuk ikutan di ODOJ... sok atuh baca di sini saja informasinya www.onedayonejuz.org. (*)

 # baca juga ini : Bagaimana Cara Mengajinya?
# Cara daftar :  daftar 























27 December 2013

Paduka, Padamu Aku Mengadu

HIDUP semakin sulit, setiap hari persoalan demi persoalan hidup terus datang silih berganti, beres masalah hutang, datang masalah cicilan. Itu terjadi karena untuk menutup hutang, saya juga harus pinjam alias berhutang lagi. Duh!

Anak terus tumbuh dewasa, harus sekolah. Meski gratis, tetapi perginya kan tidak gratis. Jika harus  diantar sepeda motor, kan pakai bensin juga yang beberapa bulan lalu harganya naik lagi, katanya sih akan terus naik di tahun depan. Istri mengeluhkan mahalnya harga bahan pokok di pasar, berharap beras bulog, tahu sendiri kan? seperti makan zaman baheula. Itu pun antre bersama banyak orang di gampong. Di absen oleh pak sekdes, "Pak Ahmad,! silakan teken di sini," sambil berteriak lalu memanggil yang lainnya.

Terpikir, sudahlah kita jual kendaraan sepeda motor saja lalu buka usaha jualan nasi di depan kantin sekolah. Tapi, anak ke sekolah pakai apa? naik angkot ya sama saja harus ada ongkosnya. Belum selesai juga masalah hidup ini. Setiap bulan tagihan air dan listrik rutin dibayar, meski beberapa kali ditegur PLN, meteran mau dicabut karena telat bayar sudah tiga bulan. Kadang kita mikir, kapan saya mau tegur PLN yang hanya bisa meminta maaf di koran kalau listrik akan mati selama satu hari, giliran!

Apa saya harus nulis surat pembaca juga di koran, biar orang PLN baca. Isinya begini, "Kepada PT PLN Persero, Saya sampaikan permohonan maaf saya bahwa bulan ini sejak tanggal 1 hingga bulan berikutnya selama tiga bulan berturut-turut tidak mampu membayar tagihan listrik. Demikian permohonan maaf ini saya sampaikan, atas perhatiannya saya sampaikan terima kasih." Tertanda,  Ahmad, Pelanggan PLN Sejak tahun 1980.

Surat itu, memang tidak pernah terkirim. Sempat beberapa kali akan dikirim tetapi sepertinya akan dianggap orang santing abad modern. Tapi, ya sudahlah.. mana tahu ada yang senasib nanti saya kasih copy surat ini. Biar mereka kirim sendiri ke koran dan ditembukan ke Manager PLN di provinsi ini.

Semakin hari, persoalan terus menerpa. Pemimpin ku asyik urusin program ini dan itu. Tapi aneh ya, saya sendiri tidak pernah merasa atau diajak gabung dalam manfaat program itu. Pernah memang akan dapat bantuan modal usaha, tetapi ada syarat. Bantuan 10 juta cair 8 juta. Yang 2 juta katanya untuk uang urus di kantor dinas tempat saya ajukan proposal. Aneh juga, yang ngurus itu yang teken  bantuan untuk saya. Itu bukan uang urus namanya! bilang saja minta jatah. Duh, rupanya sudah lama dan orang-orang di kampung juga mengatakan demikian. Mereka akhirnya ambil 8 juta ketimbang tidak dapat sama sekali.

Hidup semakin susah, tetapi itu mereka yang ngurusin kita suka sekali bicara soal keberhasilan dan program. Mereka tidak tahu hari ini saya tak makan karena tak ada lauk. Beras pun gak kebeli. Kadang ada pertempuran dahsyat dalam rumah dengan istri dan anak yang rewel minta jajan. Bukan gak sanggup jajanin anak, tapi ini penghematan di masa krisis.

Saat semua persoalan terus datang, hutang semakin membengkak. Kepala pun sakit, lambung mulai  ngulah. Kata dokter, "Jangan banyak mikir pak, asam lambungnya naik."  Dalam hati, bagaimana tidak mikir, dokter gak tahu yang saya hadapi sehari-hari. Pernah memang mengambil upah beresihin kebun orang, 20 ribu sehari. Lumayan cukup makan, tapi cukup makan hati juga, sebab tetangga berbisik, "Kasihan, apa gak ada kerja yang lain."

Ada waktu sebentar, bisa baca koran. itu koran bekas edisi yang lalu. Terbaca di sana pemerintah akan menyejahterakan rakyatnya dan membuka lapangan pekerjaan serta menjamin pendidikan yang berkualitas. Nyatanya, anak saya sekolah di SMA gratis, gurunya yang seperti apa adanya. Mereka juga sudah terlilit hutang karena ambil kredit konsumtif di bank milik daerah dengan modal SK PNS.

Pendidikan yang berkualitas tetap di sekolah swasta yang bayarnya puluhan juta, tetapi memang sangat menjamin masa depan anak. Ah, mungkin hanya bisa jadi mimpi saya untuk anak-anak. Di koran kemarin juga saya baca, kita punya orangtua tempat mengaku dalam beragam hal, tapi yang mengadu bukan saya tetapi orag tetangga rumah sekitarnya yang didengarkan keluhanya. Hmmm, apa juga dia diangkat jadi pemangku budaya dan mendengar keluhan rakyat.


Malam ini, saya sadar. Hanya satu tempat mengadu. Hanya satu tempat meminta. Gusti Allah Paduka Yang Maha Perkasa, kasihnya sepanjang masa, semua bangsa, semua kita. Paduka! padamu aku mengadu, Paduka! Yang Maha Mulia, dengarkan keluh kami. Paduka! kami sadar meminta kepada manusia itu, hanya mendapati kecewa. Kepada Engkau Paduka! aku meminta. Paduka Yang Mulia, Kabulkanlah!

# Tulisan ini, entah siapa yang membuatnya. Tercecer di spam email yang terkirim ke saya dengan akun anonim.

































26 December 2013

Menulis dalam Tangis

26 DESEMBER 2013 | Saya berkesempatan mengisi pelatihan untuk penulis pemula di Dayah Asaasunnajah, Lueng Ie, Ingin Jaya, Aceh Besar. Pesertanya para guru yang mengajar di lembaga tersebut, mayoritas perempuan, hanya ada dua laki-laki.

Membuka kelas dengan motivasi pentingnya menulis dan kenapa kita harus terus menulis tentang sesuatu yang jauh dan yang dekat di sekitar kita. Tanpa terasa, pemaparan tiba pada sesuatu yang dekat di hari di mana Aceh sedang mengenang bencana tsunami 9 tahun yang lalu.

Saat meminta para peserta menuliskan tentang segala hal yang dekat dengan mereka, rata- rata sepakat menuliskan deskripsi tentang gempa dan tsunami yang terjadi di Aceh. Apa yang terjadi? sebagian menangis dalam diam, mereka menulis sambil menangis. Beberapa peserta keluar masuk minta izin, wajahnya memerah menahan tangis. "Pak gak kuat saya, hik hik hik," kata seorang peserta sambil keluar ruangan.

Suasana hening... saya merasa berdosa karena membangkitkan ingatan masa lalu mereka dalam duka. Tetapi, apa mau dikata. Hari pelatihan bertepatan dengan momentum 9 tahun tsunami melanda Aceh.

Di sesi perkenalan saya dapat mengetahui nama dan kisah keluarga besarnya yang pergi besama tsunami, Minggu 26 Desember 2004. Rata-rata peserta latihan penulisan di pesantren itu merupakan korban tsunami.

Menulis dalam Tangis, menjadi satu hal menarik. Saya tidak mengira, kelas pemula itu berhasil menyelesaikan deskripsi tulisan seputar mereka dalam kesehariannya. Ada yang menulis tentang ibu dan kepergiannya di hari musibah itu terjadi, tentang suami, anak, dan orang- orang terdekat di antara mereka.

Meski baru pertama kali mereka masuk di kelas menulis, tetapi ada satu harapan. Mereka punya modal, tetapi belum menemukan cara yang tepat mencurahkan ide dan gagasan tentang segala hal yang dapat mereka curahkan dalam satu tulisan berupa artikel atau tulisan opini.

Menulis dalam Tangis, cukup ampuh merangsang minat para guru di sekolah itu untuk terus berkarya. Tugas saya, di sesi awal pertemuan ini tentu merangsang dan memotivasi agar semangat itu tidak pudar. Perlu terus mengasah dan mulai menulis dari hal-hal kecil hingga persoalan besar di sekitar kita.

Menuliskan apa yang ada di pikiran kita, lebih mudah ketimbang memikirkan apa yang akan ditulis. Kirannya jurus ini juga bisa menjadi acuan bagi para penulis pemula. [*]
















 

9 Tahun Sudah ...

UNTUK sahabat kerabat, dan teman sekalian, yang jauh yang dekat, yang saya tinggalkan menuju negeri penantian 9 tahun yang lalu | saya kabarkan! saya masih di sini meniti jalan menuju negeri impian # alumni relawan Aceh | di sini kerana 26 Desember 2004 | 


19 December 2013

ARIF, MENULIS LINTAS BUDAYA


CUKUP menarik membaca judul buku tulisan Arif Ramdan - Aceh di Mata Urang Sunda, menarik karena dengan mudah kita dapat menebak seputar isi yang tidak akan jauh-jauh dengan pandangan orang Sunda terhadap Aceh. Saya yakin bagi mereka yang selama ini menaruh perhatian terhadap perkembangan budaya Nanggroe pasti akan membacanya, karena biasanya orang Aceh phobia dengan analisa pakar luar yang sering tidak tepat menggambarkan kondisi Aceh.

Saya tidak menyangka bahwa isi dari buku ini adalah catatan keseharian berdasarkan pengamatan penulisnya, bukan analisa secara akademis yang bertumpuk rujukan namun di ujung seringkali salah dalam mengambil kesimpulan. Arif Ramdan ternyata menulis apa adanya sesuai dengan yang dialaminya sehari-hari selama dia menetap di Aceh sekaligus sebagai wartawan Serambi Indonesia.

Awalnya memang saya sempat berpikir apa tidak terlalu berani menulis judul seperti di atas karena apabila salah sedikit saja maka yang selanjutnya terjadi adalah kesalahan penulis akan dilemparkan ke muka etnis Sunda yang lain mengingat penulis mengatasnamakan etnis tersebut.

Menjadi sangat tepat ketika penulis memulai tulisan dengan judul "Saya Sunda, bukan Jawa!" sebagai orang yang lahir tumbuh dan menetap di Aceh perasaan menjadi bangsa Aceh tentu melekat di dalam diri saya hingga begitu bangga menyandang dan memperkenalkan diri sebagai Ureung Aceh. Dan saya yakin perasaan seperti ini tentu juga dimiliki oleh semua rakyat yang mendiami Provinsi paling barat Sumatera ini.

Perasaan yang tumbuh bukan tanpa alasan, sejak sadar saya telah melihat bagaimana kondisi tanah di mana saya dilahirkan. Mencekam, menakutkan, intimidasi, pembunuhan dan senjata seakan menjadi bagian tidak terpisahkan dari Nanggroe. Lambat laun karena terus-menerus dalam kondisi seperti ini layaknya bangsa yang ditekan tentu akan muncul sikap eksklusif karena kesamaan suku atau kesamaan nasib di dalam diri penduduknya. Maka saat itu pandangan akan terarah kepada siapa yang berkuasa dan mempunyai wewenang memerintah negeri ini, ketika bangsa tersebut mendapati kenyataan bahwa penguasa mereka di dominasi oleh satu suku yang sangat totaliter dan merata dalam semua lini, perasaan marah itu akan terbentuk. Di saat saya menyaksikan kehidupan mereka berbeda dengan kami, kota mereka jauh lebih bagus daripada kota kami, tentu perasaan tersebut lama kelamaan akan mengkristal menjadi sikap benci terhadap mereka.

Arif ramdan seakan mengerti benar dengan perasaan orang-orang seperti saya maka untuk menghilangkan rasa curiga terhadap analisanya dia kemudian memulai dengan judul seperti di atas, sekan ingin masuk lebih dalam dan dipercayai pembaca penulis kemudian berkisah mengapa menurutnya Sunda itu bukan Jawa. Hal ini merupakan langkah yang sangat tepat mengingat buku ini sejak diluncurkan pertama kali tentu akan di konsumsi dulu oleh masyarakat objek pengamatannya yang bisa dikatakan membenci terminologi kata Jawa!

Untuk memperkuat objektivitas dari tulisannya Arif Ramdan di bagian lain bukunya juga menyertakan tulisan yang menjelaskan kepada pembaca bahwa dia layak di percaya karena tidak hanya tinggal di Aceh namun juga menikah dengan orang Aceh sehingga itu juga menjadi pendukung bagi pandangannya terhadap rakyat Aceh. Tidak lupa penulis juga menyertakan tulisan bahwa dirinya kini telah di karuniai buah hati dari hasil pernikahannya dengan Ureung Aceh (Yordani) sehingga makin mepertegas sisi dari percampuran budaya yang dimilikinya.

Kesan lain yang membuat saya suka adalah ketika kehidupan Aceh dipotret dari sisi syariatnya yang mengental dalam adat, sehingga tulisan-tulisan dalam buku ini tidak hanya sekadar membahas budaya yang antropologis namun juga berisi penjelasan-penjelasan dari pandangan Islam yang membuat uraiannya tidak hanya terkesan pengamatan tapi juga berisi penjelasan dan analisa. Hal-hal yang menurut penulis tidak sesuai dengan pandangan Islam kemudian dengan sangat santun diluruskan. Seperti pembahasan dalam judul Perabon Aceh, walaupun dalam kasus ini penjelasannya sangat subjektif karena bisa jadi hanya di lakukan oleh sekelompok orang yang ada di Aceh, namun pelurusan dari aspek syariah memang patut di berikan apresiasi di sebabkan jarangnya orang menganalisa sebuah kejadian langsung dari sudut ke Islaman.

Kekurangan dalam buku ini yaitu terlalu banyak bagan cerita yang berulang-ulang, seperti topik-topik bahasan yang menyangkut proses reintegrasi. Kemudian stigmatisasi buruk seperti dalam uraian "Tipu Aceh" hendaknya tidak di jadikan pembahasan utama apalagi menjadi satu judul di mana penulis sepertinya terlalu mengeneralisir persoalan dengan mengaitkan antara sejarah penipuan yang dilakukan oleh Teuku Umar dengan keputusan GAM untuk berdamai hingga seolah-olah terkesan bahwa bangsa Aceh adalah penipu. Menurut saya stigmatisasi seperti ini perlahan-lahan harus di hapus dari catatan sejarah.

Terlepas dari itu semua menurut saya buku ini sangat layak di baca dan mampu menjadi referensi bagi perkembangan khasanah sosial masyarakat, apalagi kemudian buku ini juga memuat tulisan Ampuh Devayan di akhir yang saya rasa sangat penting karena berfungsi sebagai rangkuman sekaligus penyeimbang dari apa yang telah di lihat oleh Arif Ramdan selama 5 tahun ia berada di Aceh.

Buku ini kedepan bisa di jadikan sebagai perkenalan awal bagi mereka yang ingin mengetahui lebih dalam tentang Aceh, terlebih bagi mereka yang selama ini memandang Aceh secara negatif dengan alasan buku ini bukan di tulis oleh orang Aceh, lebih lanjut juga mengajarkan kita akan budaya oral seperti lazimnya kita lakukan di warung kopi sudah selayaknya di catat untuk kemudian di buku kan karena kelak akan menjadi arsip sejarah, coba bayangkan orang di luar saja menulis tentang Aceh lalu mengapa kita tidak tertarik untuk menulis juga dari sudut pandang geutanyoe selaku masyarakatnya.

Akhirul kalam terlepas dari pro dan kontra mengenai analisa buku ini,? saya selaku pribadi salut kepada Arif Ramdan yang telah berusaha menceritakan Aceh ke luar melalui usaha menulis perpaduan antara dua budaya yaitu Sunda dan Aceh, maka tidak terlalu berlebihan kiranya bila saya mengatakan bahwa dia telah menulis lintas budaya. [Ferza Koetaraja, Mahasiswa Unsyiah Banda Aceh.| Sumbersuar.okezone.com]

'Preman Gampong' ala Unsyiah


SIAPA pun orangnya, termasuk Anda yang menyimak berita tentang Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) akhir-akhir ini, tentu akan mengernyitkan dahi melihat luka si Jantong Hate. Jika diibaratkan penyakit kulit sejenis borok, luka itu telah menganga dan ‘berbau’ hingga tercium bukan hanya oleh warga di kompleks Darussalam saja.

Diawali sentilan alumnusnya, almarhum Martunis yang menyoal akreditasi C, Unsyiah kemudian menjadi isu berkelas dan sajian berita menarik bagi media yang menemukan ‘headline’-nya manakala Guru Besar di kampus itu ikut serta di pesta demokrasi di Aceh.

Kabar dari Unsyiah menjadi running news tak berkesudahan pascapilkada, bau borok itu tak lekas sembuh dan bahkan menular ke bagian lain, ke ruang-ruang kuliah di mana mahasiswa pun ikut serta mendiskusikan ribut-ribut di kampus mereka.

Belum reda saling tuduh “siapa” makan uang “apa” saat ada kuasa, Kamis, 10 Januari pekan lalu, kita kembali terkejut dengan kabar terbaru dari Unsyiah. Sejumlah dosen dan juga Guru Besar bersitegang terlibat cek-cok berebut menentukan cara meniti jalan menuju kursi kuasa.

Menggebrak meja
Mereka gaduh dengan cara mereka, cara para Guru Besar. Ribut-ribut itu menjelma menemukan wujud aslinya. Wujud siapa sesungguhnya guru-guru kita di kampus itu yang menggebrak meja melempar kursi di acara pemilihan dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP).

Memalukan memang, tetapi itulah fakta yang terjadi. Para guru itu saling tunjuk siapa yang memulai kegaduhan itu. Diibaratkan tawuran mahasiswa, para guru besar itu juga tak mau disalahkan, tak mau dianggap pemicu. Masing-masing menyebut kubu “lawan” sebagai pemicu kerusuhan pada prosesi pemilihan dekan di fakultas yang khusus mencetak para guru atau pendidik di negeri ini.

Peristiwa tersebut patut menjadi perenungan bersama. Mereka yang melempar kursi menggebrak meja itu, bukan mahasiswa tapi gurunya mahasiswa, mereka bukan guru kecil tetapi Guru Besar, guru yang sepatutnya menjadi rujukan dari lautan ilmu yang diberikan Tuhan. Al-Ghazali menyebut bahwa hakikat pendidikan adalah mengedepankan kesucian jiwa dari akhlak yang hina dan sifat-sifat tercela, maka apakah kita akan membenarkan tindakan para guru besar itu? rasanya berat hati membenarkan cara-cara para guru besar tersebut, apalagi hanya untuk memperebutkan secuil kekuasaan, yakni kursi dekan. Kita seperti sedang melihat siswa SMA terlibat tawuran atawa preman-preman yang marah tak kebagian jatah dari lapak keamanan yang mereka kuasai.

Jika laku Guru Besar seperti itu, kita patut bertanya jangan jangan ada proses yang tak lazim dari cara mendapat gelar itu selama ini. Buktinya, aksi menggebrak dan melempar kursi itu sesuatu yang tidak mencerminkan seorang guru.

Guru Besar, sejatinya tidak hanya mampu mencerminkan sisi keilmuan tetapi moralitas, akhlak, dan sopan santunnya juga wajib tercermin dalam prilaku keseharian mereka. Mereka mestinya unggul tidak hanya sisi keilmuan saja sehingga menjadi teladan bagi mahasiswa di kampus. Mereka bukan pemarah, mereka bukan manusia yang patut menyombongkan diri, bukan mereka yang haus kuasa, dan mengambil apa saja untuk maju ke kursi kuasa impiannya.

Untuk semua Guru Besar yang kecil dan yang akan menjadi besar, kiranya patut instrospeksi kembali. Mari tundukkan kepala, rendahkan hati untuk merenung sejenak tentang apa dan siapa Guru Besar itu sesungguhnya. Sebab, Guru besar harus menjadi inspirasi pada bidangnya untuk orang lain. Guru Besar harus menjadi panutan, harus merakyat, dan jangan menjadi ‘pendosa’ dengan hanya memikirkan golongannya dalam politik kampus.

Ciptakan harmoni
Hari ini kita melihat di Aceh sudah terdapat Guru Besar yang suka melempar kursi menggebrak meja melampiaskan kemarahannya, maka guru seperti itu tidak jauh beda dengan preman gampong yang selalu merasa kha atau juwah, berani mengamuk tanpa perhitungan, tanpa menyadari bahwa amukannya disaksikan banyak mahasiswa. Duh!

Manakala mental preman gampong itu terus saja ada dan terulang kembali, ada baiknya takzim kita, hormat Anda, dan hormat para mahasiswa, kita alihkan untuk mereka para guru atau dosen biasa yang rajin mengajar dan mengajar tanpa memikirkan kapan dan bagaimana ia bisa jadi dekan atau sibuk mengurus jalan menuju Guru Besar.

‘Perang’ para Guru Besar di kampus Unsyiah beberapa waktu lalu sungguh naif dan memalukan kita. Lalu pantaskah saat ini kita meyakini bahwa dunia akademis itu dunianya para moralis? Ya, tentu kita berharap keyakinan ini masih akan ada jika para Guru Besar itu mau berubah, berbenah, menciptakan harmoni, dan keluar dari kungkungan ‘fitnah’ yang menjerat Unsyiah saat ini. Jika tak juga berubah, maka Jantong Hate itu akan busuk sebusuk-busuknya karena di kampus itu ada banyak kedengkian yang terus dipropagandakan. Nauzubillahi min dzalik! [Dimuat di Harian Serambi Indonesia Klik | sumber foto: indonesiarayanews.com]

29 August 2012

Tulisanku, Suaraku

TANGGAL 28 Agustus 2012, kali pertama saya berkesempatan memberikan pelatihan dasar menulis bagi komunitas difabel di Banda Aceh, yakni Young Voice. Mereka adaalah kelompok angkatan muda penyandang disabilitas berumur antara 16-25 tahun yang memiliki potensi bekerja untuk mengadvokasi serta mempromosikan persamaan hak bagi penyandang disabilitas.

Di sebuah rumah tidak jauh dari belakang terminal lama, Setui, Banda Aceh, mereka berkumpul, berkarya, saling mengisi kekurangan dan kelebihan masing-masing. Di sana mereka juga membicarakan tentang hidup dan kehidupan mereka. Ada semangat terpancar dari raut-raut wajah anak-anak muda di komunitas Young Voice tersebut.

Saat saya datang, kesan pertama, Hening... 

Mereka banyak terdiam dan tidak terlalu respons dengan kehadiran saya. Perlu waktu, sekitar 10 menit mencairkan situasi agar saya bisa menyatu dengan hati dan apa yang sedang mereka pikirkan. Bermula dari sebuah cerita tentang saya, tentang nama saya yang sejak tahun 2000 sudah masuk ke Aceh. Namanya, Saja!. 

Saya memulai dengan cerita, tahun 2000 saya mulai menulis di beberapa  majalah nasional yang peredarannya  hingga ke Aceh. Istri saya, [tahun itu belum menjadi istri saya, ia masih berstatus sebagai mahasiswa di Banda Aceh] sudah kenal nama saya sejak tahun 2000 dan tidak tahu siapa orangnya.

Tahun 2006, ketika ia resmi menjadi istri saya. Dia terkejut, bahwa sebenarya saya yang saat ini menjadi suaminya, sudah sejak lama dia kena dari tulisan-tulisannya ia baca di beberapa majalah. "Itulah kekuatan menulis, tulisan dan ide-ide kita menembus batas teritori, " 

Dari cerita itu, terlihat mulai ada aura positif  di pelatihan tersebut. Beberapa peserta terlihat tersenyum. Sementara, saya pemandu bahasa isyarat juga menerjemahkan bahasa lisan saya kepada peserta yang memiliki keterbatasan berbicara.

"Jika anda ingin didengar, ide anda ingin dibaca orang, hak-hak anda terpenuhi, anda ingin memberika pemahaman tentang anda dan teman-teman semuannya, Anda jangan diam. Anda harus menulis, sampaikan ide-ide dan persoalan anda hadapi saat ini melalui tulisan ketika suara anda terhalangi dengan keterbatasan yang anda hadapi saat ini," 

"Jangan harap mereka mengerti dan memahami kita, jika kita tidak pernah memberikan gambaran apa dan siapa kita,?"

Suasana semakin akrab, ketika para peserta bertanya tentang bagaimana memulai menulis. "Tulis apa yang menjadi persoalan di sekitar anda, tulis di sekeliling anda, tulis tentang anda dan teman-teman saat ini,"

Dari pertanyaan-pertanyaan itu, kemudian diketahui dari 17 peserta, 5 diantaranya memiliki keterampilan menulis puisi, membaca puisi, dan menulis cerpen. Izal, misalnya. Ia yang terbatas ruang geraknya, dan harus terduduk di kursi roda, ternyata pernah masuk 10 besar juara menulis puisi yang diadakan Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh.

Mulyadi juga demikian, siswa SLB Bukesra ini, pernah menjuarai lomba baca puisi di Bandung dan Yogyakarta. Ada juga Shanti, perempuan tunawicara ini, terampil membuat sandal. Di rumahnya, ia terbiasa menerima pesanan sandal dengan berbagai motif yang dia buat dari bahan karet. Ketika saya memintanya membuat sepasang sandal untuk saya, dengan sigap dia bertanya--dengan bahasa isyarat-- yang diterjemahkan pendampingnya. Ia bertanya nomor berapa dan warna apa yang saya suka. Dan dia menyebutkan harga sepasang sandal tersebut.

Tanpa diduga, pesanan saya tersebut juga diikuti oleh beberapa peserta lain di pelatihan itu. Ada empat peserta yang memesan sandal buatan Shanti. Shanti menuliskan pesanan tersebut di buku yang dia bawa ke pelatihan. Dengan cekatan dan tulisan tangan yang cukup rapih, terlihat Shanti begitu profesional menggeluti pekerjaannya tersebut sebagai pembuat sandal.

Satu jam berlalu, ternyata ke 17 orang peserta pelatihan dasar menulis tersebut memiliki latar belakang dan beragam keahlian. Dari sini cukup memudahkan saya membimbing mereka memulai menulis dari hal-hal kecil yang mereka geluti saat ini. Misal, Shanti akan menuliskan  tentang kerajinan sandal yang ia produksi. Bagaimana ia memasarkan produk dan kendala apa yang dia hadapi selama ini. Mereka saya arahkan untuk menulis apa yang mereka bisa tulis di sekitar mereka. Apa yang bisa mereka tulis tentang mereka.

Hingga puku 12.00 WIB sejak dimulai pada pukul 10.00 WIB tak saya duga, sudah ada 17 tema tulisan yang akan digarap mereka terkait komunitas mereka. Ini sebuah permulaaan, saya tidak masuk kepada teknnis menulis yang baik, bagaimana ejaan yang benar. Bagaimana tanda baca yang benar. Semua berjalana alamiah, apa yang bisa mereka tulis sebagai permulaan. 

Dari enam tulisan yang dikirim lebih awal oleh mereka di pelatihan itu. Semua tulisan berbicara keluhan dan ketidakmampuan mereka bersaing dan lingkungan sekitar mereka. "Saat ini, jangan ada lagi keluhan, curhat tentang ketidakberdayaan kita. Tunjukkan kita bisa!"

"Jika kita ingin diperhatikan, tunjukkan bahwa ada mutiara di jiwa kita. Tunjukkan kita bisa berbuat, maka orang-orang akan menjumpai kita. Mereka akan butuh karya kita. Jika diam dan tak berbuat dari hal kecil yang bisa kita lakukan, dunia akan diam terhadap kita,"

Tak saya sadari apa yang saya katakan rupanya cukup membuat mereka bersemangat. Mereka mulai terbuka dan berbagai tentang apa yang bisa mereka lakukan dalam keterbatasan yang mereka hadapi saat ini.

Subhanallah.... ada 17 rencana tulisan yang mereka rangkum dalam sebuah tema besar "Tulisanku, Suaraku" Sebuah Catatan Komunitas Young Voice Aceh.

Tulisan ini memang suara mereka. Tulisan-tulisan itu adalah mimpi dari suara mereka yang selama ini tak terdengar dunia. Mereka tak bersuara, mereka tak dapat melihat. Tetapi mereka bisa bersuara dengan tulisan dan memperlihatkan kepada dunia bahwa mereka bisa.

Nanti disambung lagi ......semangat terus untuk teman-teman di Young Voice, Banda Aceh
 





03 June 2012

Suparno Lepas Landas Bersama 'Ayam Lepaas'

Suparno
Lelaki yang tumbuh besar Simpang Keuramat, Aceh Utara, ini, berkisah, dirinya pernah harus dipaksa lepas tanpa arah ketika ia ditinggalkan oleh pihak yang selama ini bekerja sama dengannya



  
                                                                                                                                                            DUA jam duduk bersama Suparno, seperti baru beberapa menit saja. Selalu ada ide-ide gila dan inspirasi berharga yang dilontarkannya untuk bisa memulai sebuah usaha. Pemilik bisnis resto dengan menu utama ayam ini, selalu semangat jika diajak berbagi cerita terkait sukses mengelola bisnisnya saat ini, yakni ‘Ayam Lepaas’.

Kamis (31/5) kemarin, Suparno berbagi cerita tentang bisnisnya yang saat ini sudah lepas ke sejumlah kota di luar Aceh, terutama di Bekasi dan Jakarta. Membawa brand ayam asli Aceh, saat ini Suparno sudah mendirikan 44 gerai di Jabodetabek dan 11 gerai Ayam Lepaas di Aceh.

Gerai pertama Ayam Lepaas didirikan Suparno awal November 2009 silam. Gerai pertama itu dibuka di kawasan Lampriek, Banda Aceh. Tepatnya di depan SMA 3. Dari sinilah, awal mula Suparno lepas landas bersama Ayam Lepaas. “Kebetulan saya suka masak,” katanya saat berbincang di gerai Ayam Lepas, Lamnyong, Banda Aceh.

Ia juga mengaku, sebenarnya buka usaha Ayam Lepaas itu tidak pernah terpikirkan, ia bahkan mengaku Ayam Lepaas yang ditekuninya adalah sebuah ‘kecelakaan’ di tahun 2009 silam. “Ini sebenarnya kecelakaan saja saya buka Ayam Lepaas, gak kepikir sebelumnya,” ujar Suparno sambil tertawa mengenang masa awal mula mendirikan usaha tersebut.

Melihat Suparno, tentu jangan melihatnya hari ini. Bisnis restoran dengan menu utama ayam ini sudah dilakukannya sejak tahun 2007. Saat itu dia memakai merek franchise yang juga punya menu khas ayam. Tapi ia gagal di bisnisnya ketika itu.

Lelaki yang tumbuh besar Simpang Keuramat, Aceh Utara ini berkisah, dirinya pernah harus dipaksa lepas, tanpa arah ketika ia ditinggalkan oleh pihak yang saat itu bekerja sama dengannya. Padahal, menurut Suparno, saat itu, resto yang dikelolanya sudah mulai ramai dikunjungi pembeli. Akhirnya Ia pun harus berjualan ayam tanpa merek, jualannya benar-benar lepas. Kondisi seperti itu berlangsung selama kurang lebih tiga bulan.”Saya sempat bingung juga mau pakai nama apa ayam olahan saya,” katanya, mengenang saat usahanya hampir colaps.

Sambil terus mencari nama yang pas, ia sebut satu persatu nama saat itu, termasuk nama ‘ayam pedas’ dan nama lainnya yang tidak lagi diingatnya. Tetapi nama ‘ayam pedas’ tidak berjodoh dengannya.

Hingga suatu ketika, dalam sebuah perjalan dari Lhokseumawe ke Banda Aceh, Suparno menemukan nama yang hari ini telah menjadi nama untuk usahanya itu. Ia mengatakan, nama itu didapat dari kebiasaannya mengolah sambal dengan cara ulek atau diulek. “Saya ambil ‘le’ nya dari kata ‘ulek’ dan ‘pas’ dari kata pedas, jadilah ‘Ayam Lepaas’,” katanya sambil tersenyum.

Di gerai Ayam Lepaas Suparno juga menyuguhkan berbagai menu, mulai dari ayam goreng, bebek, lele, burung puyuh, yang disajikan bersama sayur seperti timun, kol serta selada, dan juga dilengkapi dengan sambel. Ada dua sambal andalan Suparno, sambal ‘Ayam Lepaas’ dan ‘Ayam Lemas’.

“Jika ingin pedas serasa menyengat sampai ke otak, pilih saja Ayam Lepaas,” katanya sambil menunjuk sambal pedas di depannya. Sementara ‘sambal lemas’ rasanya manis sesuai singkatannya yaitu lezat dan manis.

Suparno juga membuka peluang kerja sama bisnis bagi siapa saja yang ingin berbisnis kuliner dengannya. Ia tidak menerapksan sistem waralaba melainkan usaha kerjasama atau kemitraan. “Kalau ada modal atau ada lahan silakan. Tak harus berhenti jadi wartawan. Biar bisnisnya saya yang kembangkan,” katanya sambil tertawa.

Suparno juga punya mimpi, ‘Ayam Lepaas’ nya bisa sejajar go internasional seperti waralaba dengan menu ayam yang saat ini banyak masuk di Indonesia juga di Aceh.

Gerakan Wirausaha
Selain tekun mengelola ‘Ayam Lepaas’, Suparno juga getol mengajak orang berwirausaha. Bersama rekan-rekannya, ia mendeklarasikan berdirinya Gerakan Wirausaha Aceh (Gwach) sebagai langkah awal dimulainya kebangkitan sektor perekonomian di Aceh.

“Ketimbang mencari-cari peluang jadi PNS, mari kita berlomba-lomba jadi pengusaha yang peluangnya sangat besar, tanpa batas,” katanya.Di lembaga yang dideklarasikannya pada Senin 28 Juni 2011 itu, Suparno bertekad melahirkan 10 ribu pengusaha baru di Aceh.(arif ramdan)

Sumber : Serambi Indonesia