13 January 2016

Ini Dia Penghalang Datangnya Rezeki

BANYAK di antara kita mengeluarkan banyak biaya untuk kursus atau mengikuti seminar percepatan rezeki, menjadi pengusaha sukses, dan banyak pelatihan lain agar kekayaan, kesejahteraan itu wujud.

Tidak sedikit yang merasa tak berhasil dan rezeki juga keberkahan hidup tak kunjung tiba. 

Tahukan Anda, ternyata ada beberapa hal yang menghalangi rezeki itu sampai kepada kita. Apa saja yang menyebabkan terhalangnya sumber-sumber penghidupan bagi kita?

Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh, Tgk H Faisal Ali, yang lebih akrab dengan panggilan Lem Faisal, malam mengurai dengan rinci sebab-sebab terhalangya rezeki tersebut.

Dalam kitab Ta'limul Muta'alim, seperti diuraikan Lem Faisal, rezeki itu terhalang salah satunya disebabkan karena seseorang berlaku dosa dan bergelimang kemaksiatan kepada Allah Swt.

"Ada banyak penyebab atau kondisi yang menyebabkan Allah SWT "menahan" rezeki yang bersangkutan. Diantaranya karena dosa dan maksiat yang dilakukan seseorang hamba," ungkap Tgk Faisal Ali.

Menurut Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Aceh ini, dosa adalah penghalang utama datangnya rezeki. Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya seseorang terjauh dari rezeki disebabkan oleh perbuatan dosanya." (HR Ahmad).

"Jika dosa menyumbat aliran rezeki, maka taubat akan membukanya. Karena itu, bila rezeki terasa susah, perbanyaklah taubat, dengan hati, ucapan dan perbuatan kita serta memperbanyak ibadah," jelas ulama yang akrab disapa Abu Sibreh ini.

Pimpinan Dayah Mahyal 'Ulum Al Aziziyah Sibreh ini menambahkan, maksiat dan kecurangan dalam mencari nafkah, entah itu korupsi (waktu, uang), memanipulasi timbangan, praktik mark-up, dan lainnya akan membuat rezeki kita tidak berkah. Mungkin uang kita dapat, namun berkah dari uang tersebut telah hilang.

Ciri rezeki yang tidak berkah itu mudah dikeluarkan untuk hal sia-sia, tidak membawa ketenangan, sulit dipakai untuk taat kepada Allah SWT serta membawa penyakit baik itu penyakit lahir maupun penyakit batin (iri, dengki, dan lain-lain).

Bila kita telanjur melakukannya, segera bertabat dan kembalikan harta tersebut kepada yang berhak menerimanya.

Enggan bersedekah juga menjadi faktor penghambat rezeki. Padahal, sedekah adalah penolak bala, penyubur kebaikan serta pelipat ganda rezeki. Sedekah bagaikan sebutir benih menumbuhkan tujuh bulir, yang pada tiap-tiap bulir itu terjurai seratus biji.

Lebih lanjut Tgk. Faisal Ali juga menyebutkan beberapa penyebab lainnya yang bisa menghambat rezeki seperti tidur di pagi hari usai shalat subuh, banyak tidur dari pada bekerja, tidur dalam keadaan telanjang, rumah yang kotor dengan sarang laba-laba, makan dalam keadaan junub serta berjalan tidak sopan di depan orang yang lebih tua.

Berikut Hal yang mengahalangi Datangnya rezeki:

1. Tidur Setelah Shubuh | Tidur di pagi setelah shalat shubuh bisa menyebabkan fakir harta juga fakir ilmu. Karena waktu yang paling baik untuk belajar dan bekerja adalah di pagi hari. Dengan tidak tidur di pagi hari kita bisa memperoleh ilmu dan rizki yang banyak.

Bangun pagi daapaat mendatangkan segala kemudahan dan dapat menambah nikmat, terutam rezeki. 

Menulis dengan baik adalah termasuk kunci kunci rezeki, menegakkan shalat dengan penuh hormat, khusuk dengan menyempurnakan yang rukun, wajib, sunat, daan disiplin moral (adab)nya.

Selain itu, tidur setelah Ashar juga tidak dianjurkan dan akan menghalangi mudahnya rezeki yang datang kepada kita. 

Banyak tidur tidak mendatangkan manfaat bagi kesehatan manusia, orang hanya memiliki sedikit ilmu jika pekerjaannya hanya tidur sahaja.

Selain itu di bawah ini adalah beberapa hal lainnya yang dapat menghalangi rezeki kita

2. Tidur dengan telanjang
3. Kencing telanjang
4. Makan dalam keadaan junub
5. Membiarkan makanan yang terjatuh
6. Menyapu rumah dengan sapu tangan
7. Menyapu rumah pada malam hari
8. Membiarkan sampah di dalam rumah
9. Berjalan di muka/di hadapan orangtua
10. Memanggil orangtua dengan nama keduanya
11. Membiarkan sarang laba-laba di dalam rumah
12. Meremehkan shalat

11 January 2016

Ingin Rezeki Berlimpah? Jalankan Kebiasaan Ini

Pedagang buah-buahan di Istanbul, Turki
PERSOALAN rezeki menjadi bagian terpenting dari yang dicari manusia saat ini. 

Orang berlomba- lomba mencari kelebihan penghasilan untuk memenuhi keinginan hidup.

Nah, untuk yang sedang menggapai keberkahan rezeki tetapi belum juga sempurna seperti yang diinginkan, ada baiknya ikuti panduan berikut untuk menyempurnakan keberkahan rezeki Kita. 

Beberapa poin di bawah ini merupakan intisari cara membuka pintu rezeki yang redaksi sarikan dari situs muslim Al-Sofwah merujuk sumber Kitab "Al Asbab al Jalibah lir Rizqi", al-qism al-ilmi Darul Wathan.

1. Takwa Kepada Allah
Takwa merupakan salah satu sebab yang dapat mendatangkan rizki dan menjadikannya terus bertambah. Allah Subhannahu wa Ta"ala berfirman, artinya, "Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezki dari arah yang tidada disangka-sangkanya." (At Thalaq 2-3)

2. Istighfar dan Tobat
Termasuk sebab yang mendatangkan rizki adalah istighfar dan tobat, sebagaimana firman Allah yang mengisahkan tentang Nabi Nuh Alaihissalam, "Maka aku katakan kepada mereka: "Mohonlah ampun kepada Rabbmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun" niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak- anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai." (QS. 71:10-12).

Al-Qurthubi mengatakan, "Di dalam ayat ini, dan juga dalam surat Hud (ayat 52,red) terdapat petunjuk bahwa istighfar merupakan penyebab turunnya rizki dan hujan."

3. Tawakkal Kepada Allah
"Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya." (QS. 65:3)

4. Silaturrahim
Ada banyak hadits yang menjelaskan bahwa silaturrahim merupakan salah satu sebab terbukanya pintu rizki, di antaranya adalah sabda Nabi Muhammad Saw sebagai berikut:

"Dari Abu Hurairah ra berkata, "Aku mendengar Rasulullah Shalallaahu alaihi wasallam bersabda, "Siapa yang senang untuk dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya maka hendaklah menyambung silaturrahim." (HR Al Bukhari).

5. Infaq fi Sabilillah
Allah swt berfirman, artinya, "Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia lah Pemberi rezki yang sebaik-baiknya." (QS. 34:39). 

Ibnu Katsir berkata, "Yaitu apa pun yang kamu infakkan di dalam hal yang diperintahkan kepadamu atau yang diperbolehkan, maka Dia (Allah) akan memberikan ganti kepadamu di dunia dan memberikan pahala dan balasan di akhirat kelak."

6. Menyambung Haji dengan Umrah
Berdasarkan pada hadits Nabi Shalallaahu alaihi wasalam dari Ibnu Mas"ud Radhiallaahu anhu dia berkata, Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda, artinya, "Ikutilah haji dengan umrah karena sesungguhnya keduanya akan menghilangkan kefakiran dan dosa sebagaimana pande besi menghilangkan karat dari besi, emas atau perak, dan haji yang mabrur tidak ada balasannya kecuali surga." (HR. at-Tirmidzi dan an- Nasai, dishahihkan al-Albani).

Maksudnya adalah, jika kita berhaji maka ikuti haji tersebut dengan umrah, dan jika kita melakukan umrah maka ikuti atau sambung umrah tersebut dengan melakukan ibadah haji.

7. Berbuat Baik kepada Orang Lemah

Nabi SAW telah menjelaskan bahwa Allah akan memberikan rizki dan pertolongan kepada hamba-Nya dengan sebab ihsan (berbuat baik) kepada orang-orang lemah.
Beliau bersabda, artinya, "Tidaklah kalian semua diberi pertolongan dan diberikan rizki melainkan karena orang-orang lemah diantara kalian." (HR. al-Bukhari)

8. Serius di dalam Beribadah
Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiallaahu anhu, dari Nabi Shalallaahu alaihi wasalam bersabda, "Allah Subhannahu wa Ta"ala berfirman, artinya, "Wahai Anak Adam bersungguh- sungguhlah engkau beribadah kepada Ku, maka Aku akan memenuhi dadamu dengan kecukupan dan Aku menanggung kefakiranmu.
Jika engkau tidak melakukan itu maka Aku akan memenuhi dadamu dengan kesibukan dan Aku tidak menanggung kefakiranmu."

Nah, poin-poin di atas bisa dijalankan jika kita ingin segera meraih kelapangan dan keberkahan rezeki. 

Tidak percaya? silahkan diamalkan dengan niat ikhlas dan tulus. Lalu lihat apa yang terjadi setelah itu! 

08 January 2016

Ini Dia Cara Mendeteksi Rezeki yang Halal dan Baik

PEMBAHASAN seputar kiat menjadi cepat kaya atau pun menjadi pengusaha sukses, menjadi salah satu topik yang paling digandrungi dalam beberapa tahun terakhir. 
Tak terkecuali di Aceh, seminar yang membahas kiat untuk menjadi cepat kaya, semakin ramai peminat. 
Namun, apakah kiat-kiat itu menjamin akan datangnya kesuksesan atau kesenangan hidup? “Belum tentu, karena tidak semua rezeki itu baik bagi kita. Apalagi jika rezeki yang kita dapatkan itu tidak halal atau tidak dengan cara-cara yang tidak halal,” ungkap Tgk H Muhammad Yusuf A Wahab, Pemimpin Dayah Babussalam Al-Aziziyah Jeunib, Bireuen, dalam salah satu kesempatan mengisi pengajian rutin Kaukus Wartawan Peduli Syariat Islam (KWPSI) di Rumoh Aceh Kopi Luwak, Jeulingke, Banda Aceh, Rabu (13/02/2013) malam.
Ulama yang akrab disapa Tu Sop ini memberikan contoh sederhana tentang cara untuk mendeteksi rezeki yang halal dan baik. Pasalnya, kata Tu Sop, rezeki yang halal juga ternyata belum tentu baik bagi seseorang.
“Misal, ketika penderita diabetes yang oleh dokter dilarang makan nasi, ternyata ada orang yang mengajaknya makan nasi di restoran terkenal dan mahal. Apakah itu rezeki?,” kata Tu Sop dalam nada bertanya.
“Bisa kita simpulkan, ajakan makan itu adalah rezeki bagi orang yang sedang kelaparan, tapi tidak untuk penderita diabetes yang divonis tak boleh makan nasi,” ujarnya menyimpulkan jawaban dari peserta pengajian.
Alumnus Dayah Mudi Mesra Samalang yang juga Ketua Nahdhatul Ulama Kabupaten Bireuen ini menambahkan, rezeki yang halal dan baik adalah yang bisa membuat penerimanya selamat.
“Perlu diingat, ada orang yang selamat (di dunia dan akhirat), karena kekayaannya. Tapi ada pula orang yang hancur (di dunia dan akhirat) karena kekayaannya. Sebaliknya ada juga orang yang selamat di dunia dan akhirat karena kemiskinannya. 
Misalnya, setelah jatuh miskin itu dia semakin dekat dengan Allah, apalagi jika dia bisa menerima dan merasa berkecukupan meski orang lain menganggap dia sebagai orang miskin,” urai Tgk H Muhammad Yusuf A Wahab.
Intinya, lanjut Tu Sop, keimanan dan ketaqwaan seseroang kepada Allah adalah alat utama untuk mendeteksi apakah rezeki itu halal dan baik bagi dirinya. 
“Berdoalah selalu agar Allah memberikan rezeki yang baik dan halal. Jangan sampai asal ada rezeki sikat saja, tanpa mau menimbang-nimbang kadar baik dan halalnya,” kata Tu Sop.
“Oleh karena itu, fungsikan iman untuk mendeteksi rezeki yang halal dan baik, jangan ikuti nafsu. Iman harus mengendalikan nafsu. Jangan lupa juga tingkatkan kesabaran, karena iman dan kesabaran adalah kunci utama dalam meraih rezeki. Kalau seseorang kaya dengan ilmu dan iman, maka akan mencukupi segalanya. Sebaliknya, kalau nafsu lebih dominan dalam mencari dan menentukan rezeki yang halal dan baik, maka tentu akan mendatangkan kehancuran bagi dirinya, di dunia dan akhirat,” ujarnya.
Pengajian yang mengangkat materi “Ibadah dan Tauhid Amal” ini diikuti oleh kalangan wartawan, mahasiswa, santri, dan unsur dari Badan Pembinaan Pendidikan Dayah Aceh. 
Dalam materi utamanya, Tgk H Muhammad Yusuf A Wahab mengupas panjang lebar tentang pentingnya keseimbangan antara ibadah lahir (shalat, puasa, zakat, haji, dan lain-lain), dengan ibadah bathin, seperti sikap ikhlas, tawadhu, menghindari sikap sombong, angkuh, iri, dan dengki. 

01 January 2016

Sayang Anak? Stop Bermain Game

MESKI sudah banyak saya baca bahaya game bagi anak-anak, setahun ini saya mengalah untuk anak, mengalah karena sayang anak.

Saya belikan mereka PlayStation (PS) untuk melepas penat mereka setelah sekolah. Begitu senangnya mereka. Karena itu yang selalu mereka minta, saat mereka bertandang ke rumah kawan-kawannya.
Ini juga solusi sesaat ketika itu, karena dua kali anak saya kedapatan diajak teman-temannya masuk ke salah satu warnet dengan fasilitas game online yang menggiurkan. Saat itu saya berfikir, lebih baik main di game di rumah dalam pengawasan, daripada anak keluyuran diajak teman-teman sebayanya.

Saya membatasi mereka--anak saya tiga orang--hanya boleh main dua jam sehari dan kadang dilanggar anak-anak.

Setahun berlalu, salah satu anak saya mulai mahir memainkan setiap jenis game,  terutama yang fighter dan aksi menantang lainnya dari setiap permainan yang ada. Sesekali segerombolan anak kecil nebeng main di rumah bersama anak-anak. Saya biarkan karena dunianya memang begitu. Pikir saya ketika itu.

Belakangan mulai ada perubahan perilaku, anak saya terlihat mulai agresif. Marah jika saya menyuruhnya berhenti, meski sebelumnya sudah ada kesepakatan dengan mereka. Berhenti saat azan dan waktunya mengaji dan belajar. Ya, tetapi namanya anak-anak, melanggar itu biasa bagi mereka dan saya bisa memahaminya.

Semua teknis saya akali, agar permainan itu bisa berhenti pada saatnya, mulai dari setelan timer televisi. Mematikan aliran listrik yang anak-anak tidak tahu. Menukar posisi kabel ke layar monitor sehingga seperti terjadi kerusakan dan biasanya mereka akan berhenti dan beralih ke permainan di luar rumah bersama teman-temannya.

Rupanya, pintar kita menyiasati, cerdik pula mereka menemukan kesalahan teknis pemasangan dan gangguan yang menyebabkan PS tak bisa dimainkan.  Saya 'kalah'..., tidak tahu dari mana mereka mendapatkan cara memperbaiki dan menemukan kesalahan teknis tersebut.

Seminggu lalu, saya kemas semua peralatan PS itu, melihat gelagat yang mulai tak baik. Seiring anak-anak mulai disiplin menghafal Alquran mengaji di rumah. Apa yang terjadi? salah satu dari mereka protes ketidakhadiran PS di kesehariannya. Saya bertahan, tidak memberi kesempatan lagi untuk mereka.

Masalah tidak selesai! salah satu dari anak saya melakukan akasi boikot dengan bermalas-malas pergi ke sekolah. Jika pun pergi, syaratnya harus bisa bermain game kesayanganya.

Di sini ujian cukup berat, anakku protes beneran. Ia tak ingin sekolah sebelum PS dihadirkan kembali. Ia juga agresif, marah, melempar apa yang bisa dilempar hingga berteriak sejadi-jadinya.

Meski saya akui ada kebaikan lain yang didapat dari setiap permainan yang mereka kuasai dari alat ini. Kosa kata bahasa Inggris mereka lumayan bertambah, karena selama saya dampingi, mereka akan bertanya apa arti dari perintah yang muncul dari setiap permainan.

Pemahaman ia akan teknologi informasi cukup baik di usianya yang masih anak-anak. Saya juga sudah mengajarkan anak-anak saya bagaimana berinternet dengan baik kepada mereka.

Pada sisi ini, alhamdulillah tak ada masalah. Malah anak yang paling gede diam-diam menulis catatan pribadi di laptop saya. Itu saya temukan satu file microsoftword tentang ia dan pelajaran harian di sekolah.

Nah, kembali ke masalah negatif permaianan game, saya mulai cari informasi dari perubahan perilaku ini. Saya baca, saya tanya, dan saya amati orang-orang dengan perubahan ini.

Lalu saya berkesimpulan. PS dan permainan game lainnya memang merusak anak, apalagi tanpa pengawasan. Saya dengan pengawasan ekstra ketat pun, beginilah kejadiannya. Anak agresif, pemarah, dan malas belajar. Hafalan Alqurannya mulai menurun.

Kemarin, saya bawa anak ke tempat Klinik Rukyah. Meski saya pernah belajar dan peran merukyah sendiri, tapi tetap saya perlu bantuan kawan di klinik rukyah.

Sore kemarin anak saya dirukyah. Saat dibacakan ayat-ayat rukyah, ia langsung merunduk tertidur pulas. Hingga proses selesai selama kurang lebih 30 menit, ia masih tertidur, keringatnya terlihat di kening dan leher bercucuran.

Saat ia bangun, ia langsung minta bergolek, rebahan di lantai. Suasana hening, ia jadi terdiam dan tiduran.

Sambil berbincang dengan ustadz yang merukyah, anak saya terlihat tertidur cukup nyaman. Ustadz pun bercerita, di Banda Aceh sudah banyak ia tangani anak dengan kecanduan game. Bahkan penelitian ustadz ini di kampusnya juga tentang perilaku anak akibat keseringan bermain game.

Pagi hingga sore ini, ia mulai berubah. Cenderung diam dan pagi-pagi sudah berangkat ke sekolah. Hati saya terenyuh.. sedih juga melihat anak kembali ke sifat aslinya. Seharian tadi, saya manjakan dia dengan apa yang ia minta selain permainan game.
Makan minum dan jajanan kesukaan ia. Saya kecup dia dan elus-elus kepalanya. Saya bilang, "yang rajin ya nak, sekolah. Jadi anak sholeh," ia mengangguk, jawaban atas pertanyaan saya pun dia jawab dengan kalem.

Saat ia merajuk hanya menangis saja, sementara seminggu yang lalu ia akan melempar benda apa saja yang dia dapat di depannya.

Saya terlambat dan hampir menjerumuskan masa depan anak saya ke kehidupan yang tak karuan akibat pengaruh game bagi anak-anak. Bersyukur, Allah Swt cepat menegur saya dengan perubahan perilaku yang dilihatkan anak saya setahun terakhir.

Teman-teman, sahabat sekalian. Yang punya pengalaman seperti saya. Saya sarankan segera hentikan kebiasaan anak-anak main game apalagi tanpa pengawasan kita. Televisi pun jika tidak sangat mendesak, sebaiknya digudangkan saja.

Mari lebih dekat ke mereka anak-anak kita dengan permainan ala kampung seperti zaman dahulu kita. Anak saya minta bola untuk bermain bola dan ingin bersepeda dan ini saya kabulkan.

Seraya berdoa semoga mereka lebih baik dan tak kembali ke permainan game. Amiin.
Banda Aceh, 13 Agustus 2015

Pantai Lampu'uk Wisata Air dan Kuliner Ikan Bakar

PANTAI LAMPUUK (baca: Lampu'uk) adalah tempat liburan favorit keluarga. Lokasinya sekitar 15 KM arah barat Banda ACeh, dengan jarak tempuh 20 menit berkendara.
Jalan menuju ke Pantai Lampuuk sangat mudah, jika anda bernyali dan ingin olahraga, disarankan bersepeda dari Banda Aceh menuju Lampuuk. Tentu, jangan sendiri. 
Pantai ini berpasir lembut, air laut berwarna biru kehijauan. Ombaknya cukup bersahabat bagi para peselancar.
Di sini anda bisa berenang, berselancar, atau naik banana boat mengitari garis pantai, dan tentunya menikmati ikan bakar.
Untuk yang belum jago berenang, tersedia ban untuk orang dewasa dan juga anak-anak dengan tarif sewa Rp 15.000.
Sementara untuk tiket masuk cukup merogoh kocek Rp 3.000 rupiah per orang. Anak-anak cukup aman bermain di Pantai ini, tentu tetap harus dalam pengawasan orangtua. 

Sedangkan tarif parkir dikenakan Rp 2.000 untuk kendaraan roda dua dan Rp 3.000 untuk roda empat.
Sementara untuk menikmati berbagai menu ikan bakar, pengunjung bisa memilihnya mulai dari kisaran harga Rp 60.000.
Tidak hanya bagi wisatawan lokal Aceh, panorama keindahan Pantai Lampuuk juga menggoda turis mancanegara. 
Tidak jarang, setiap pekan kita akan melihat hilir mudik turis datang ke pantai ini. Apalagi, jika musim penyu bertelur dan saat pelepasan anak penyua alias tukik.

Terletak di Babah Dua, konservasi penyu juga dapat menjadi wahana edukasi bagi anak-anak Anda di sini.

Meskipun, untuk yang satu ini, tidak setiap hari ada. Hanya bulan-bulan  tertentu pelepasan tukik ke laut lepas bisa Anda saksikan di Lampuuk.

Tukik dilepas ke laut ketika mereka dianggap sudah cukup mampu bertahan di alam lepas. 

30 December 2015

Bekerja di Hotel, Berdoa di Raudhah

DINGIN subuh menyapa Madinah, “Kota Nabi” yang bercahaya. Orang-orang hilir mudik ke luar Masjid Nabawi. Para penjaga pintu terlihat duduk santai melihat ke luar-masuk jamaah masjid.
Sementara di dalam masjid tetap saja ramai. Apalagi di Raudhah dan makam nabi, berdesakan jamaah ingin mendekat untuk mengucap salam kepada Rasulullah saw.
Orang-orang menangis, menunduk khusyuk dalam munajat di Raudhah, tempat yang lebarnya hanya 22 x 15 meter persegi.
Masuk ke dalam masjid, sudut-sudutnya berkilau cahaya lampu. Warna emas penghias tiang-tiang penyangga masjid menambah kesan megah dan betapa agungnya rumah Allah itu. Rumah di mana makan Nabi Muhammad saw berada. 
“Malaysia, Malaysia?” begitu para petugas kebersihan masjid menyapa. Mereka mengira jamaah Subuh dari Aceh itu asal Malaysia.
Pertanyaan itu, berulang dalam setiap kesempatan. Bukan hanya di kompleks masjid. Saat masuk mal saat berbelanja di lantai bawah hotel kompleks sekitar masjid, juga begitu. Para pedagang menyapa dengan bahasa Indonesia.
Pelataran Masjid Nabawi, Madinah 
“Haji...haji...haji, mampir kurma murah, kurma murah!” teriak pedagang yang menawarkan kurma dan oleh-oleh khas Madinah.
Sapaan Malaysia, Malaysia! kerap terdengar saat serombongan jamaah umrah dari Aceh memerlukan sesuatu untuk dibeli. Para pedagang di sini begitu paham karakter orang Indonesia atau Malaysia dalam berbelanja.
Transaksi begitu mudah dengan bahasa Indonesia. Benar, kabar dari orang-orang yang berhaji tahun lalu. Pedagang di Madinahlebih suka dan menanti kehadiran para peziarah dari Indonesia.
Madinah, Kota Nabi yang bercahaya itu begitu ramah kepada para peziarah. Karakter Arab Madinah cukup lembut. Di kota ini dengan mudah kita temui para pekerja asal Indonesia, mereka tersebar di restoran, hotel, dan para petugas kebersihan Masjid Nabawi.
Suwardi, lelaki asal Banten salah satunya. Ia sudah lebih sepuluh tahun menjadi pekerja di Hotel Millenium Al Aqeeq, Madinah. Ia mengaku betah dan senang bekerja di Kota Nabi tersebut. Simpel saja alasannya, selain bekerja mencari nafkah ia merasa lebih dekat dengan Sang Khalik.
Memberi makan burung di seputaran Masjid Nabawi
Ia bisa beribadah setiap saat di Masjid Nabawi dan bermunajat di Raudhah, tempat di mana setiap manusia merindukannya untuk bersimpuh dan berdoa kepada Allah Swt. Jika jamaah haji atau umrah asal Indonesia harus berebut ke Raudhah, Suwardi bisa kapan saja memanfaatkan waktu shalat di tempat yang mustajab itu.
Tak heran, saat Subuh bahkan setelahnya menjelang shalat Duha, akan terlihat orang-orang dengan pakaian kaos atau baju seragam hotel dan restoran juga antre shalat dan berdoa di Raudhah itu.
“Kalau umrah sudah tidak terhitung berapa kali, karena setiap ada kesempatan saya pasti umrah ke Mekkah,” ujarnya saat berbagi pengalaman nikmatnya bekerja dan beribadah di Madinah.
Ia juga mengaku kerap memanfaatkan waktu sebelum bekerja untuk shalat Duha dan berdoa di Raudhah. “Kalau setelah kerja, kita biasa masuk ke Raudhah shalat dan berdoa. Berangkat kerja juga begitu Duha dulu di Raudhah,” papar Suwardi.
Lain lagi dengan Asep, pemuda asal Cianjur, Jawa Barat, ini sudah dua tahun bekerja sebagai pramusaji di salah satu kedai kopi. Perawakannya yang kecil, cukup mudah ditebak ia seorang Sunda tulen.
Pekerja membersihkan tiang payung di kompleks Masjid 
Ditemui Rabu (25/11) di tempat kerjanya di Bandara Internasional Prince Mohammad bin Abdul Aziz, Asep berbagi kisah. Dengan gaji 1.500 riyal (sekitar Rp 5,4 juta) ia mengaku cukup ketimbang jadi penganggur di Tanah Air.

“Meski harus kerja 12 jam, tapi makan dan antar jemput ke lokasi bekerja sudah dilayani perusahaan,” ujarnya.
Sementara itu, Sam’an, pemuda asal Lombok yang ditemui Serambi di salah satu gerai makanan di Bandara Madinah juga cukup menikmati pekerjaannya sebagai pelayan toko. Sambil membersihkan kemasan kurma dan mengelapnya, ia berbagi cerita pengalaman menjadi pekerja di Madinah.
“Gaji saya 1.400 riyal, makan dan transportasi sudah ditanggung perusahaan,” ujarnya.
Sam’an juga punya pengalaman yang sama. Ia bisa bekerja dan beribadah di sela-sela kesibukannya. “Alhamdulillah, sudah haji dua kali, kalau umrah mah gak terhitung lagi berapa kali. Asal ada libur saya pasti pergi ke Mekkah,” katanya.
Pekerja kebersihan masjid rata-rata juga begitu. Mereka mengaku senang bekerja sebagai pelayan tamu Allah di Masjid Nabawi.
Anda tak bakal tersesat di Madinah.  Kota ini cukup ramah bagi para peziarah. Cukup sedikit bisa berbahasa Arab tentu sangat membantu. Saat masuk pasar, Anda yang berwajah Melayu pasti disapa “Malaysia, Malaysia? Indonesia? Selamat pagi ayo mampir ke sini!”
Itulah Madinah, magnet bagi para peziarah di Tanah Suci. Daya tarik Madinah tentu karena di sana ada makam nabi kita, Muhammad saw yang di antara makam dan mimbar masjid terdapat Raudhah, tempat mustajab yang paling dicari sang pendoa. (arif ramdan)

Istanbul, Kota Tua yang Memesona

KOTA ini megah, bangunan dengan arsitektur dominasi Eropa berpadu timur tengah dapat nikmati di kota tua Istanbul, Turki belahan Eropa. Orang-orangnya terlihat sibuk, berjalan dengan cepat di pusat-pusat perdagangan dan kawasan wisata. Kota tua Istanbul (Istanbul Old City) memang surga bagi pelancong dunia. Sesiapa bisa menikmati kota ini dengan aneka ragam sajian kuliner khas negeri tulip berikut tempat nongkrong yang nyaman.
Selasa (24/11), kota tua ini cukup dingin, suhu saat itu 15 derajat celcius. Meski orang Turki menyebutnya itu suhu udara biasa dan belum masuk musim dingin, tapi bagi pelancong yang baru menjejak kaki di negeri seribu masjid ini, udara memang tidak begitu bersahabat. Ini juga yang dimanfaatkan pedagang jaket di pinggir jalan, menawarkan kehangatan bagi wisatawan. 
“50 Lira saja...murah-murah,” tawaran seorang pedagang mantel menyapa para tamu yang berjalan di trotoar kota. Harga itu akan turun jika kita serius membeli dan menawar serendah-rendahnya. Orang Turki memang pandai membujuk pembeli, mereka melengkapi diri dengan kalkulator, sehingga memudahkan saat seseorang akan membayar dengan dollar atau mata uang selain Lira.

Metro hilir mudik menembus kemacaten pusat kota, jika hari Jumat tiba atau sore menjelang malam Istanmbul tak jauh beda dengan Jakarta. Macet di sana-sini, tetapi transportasi umum yang nyaman tidak membuat penumpang stres dalam kemacetan panjang. Akses internet dengan layanan wifi gratis tak pakai lemot memanjakan para penumpang di sela-sela kemacetan.
Sejauh perjalanan di pusat kota, kita dengan mudah bertemu masjid-masjid khas Turki yang jaraknya berdekatan, dengan gaya arsitektur Utsmaniyah pemandangan menjadi lebih hidup. Tak jarang pengunjung salah menebak satu masjid yang sama tetapi ternyata berada di lokasi yang berbeda.

Saat kumandang azan tiba, bersegera ke masjid terdekat, nikmati sensasi berwudhu ala zaman baheula. Kran-kran air tempat bewudhu khas zaman dahulu menyapa kita. Wow!!! dinginya membuat kita terperanjat saat cucuran air pertama mengenai kulit kita.
“Itu belum seberapa ini masih musim normal, kalau sudah tiba musim dingin kita saja tidak sanggup,” kata Ali Altin, pemandu asal Turki yang pernah belajar budaya Indonesia di Yogyakarta selama dua tahun.
Ali cukup fasih berbahasa Indonesia, ia seorang Turki yang dikirim perusahaannya khusus belajar bahasa Indonesia di Yogyakarta. Tugas Ali memandu setiap wisatawan dari negeri-negeri berbahasa Melayu.
Ia cukup mengerti kebiasaan dan gaya orang Indonesia, tak jarang ia ke tempat yang biasa orang Indonesia suka, termasuk ke pasar. Ali juga mewanti-wanti agar di Turki tidak mudah percaya kepada pengemis atau siapa saja yang menawarkan jasa murah.
“Saat di atas nanti, tidak usah tergoda jika ada yang tawarkan barang, atau ada pengemis. Abaikan saja, ada pencopet juga di sini,” kata Ali saat akan naik ke cafĂ© Pierre Loti, bukit tertinggi di mana kita dapat menikmati pemandangan kota Istanbul sambil minum kopi khas Turki.
Belanja di Grand Bazaar
DI Istanbul, nyesal jika tak berbelanja ke lorong-lorong pasar di Grand Bazaar, orang Turki menulis nama pusat belanja ini Capalicarsi. Tapi, harga barang cukup mahal di sini. Tak pandai menawar, tamatlah riwayat dompet kita sebelum berakhir belanja dari lorong ke lorong pasar ini.
Pedagang Turki memang pandai merayu pembeli, di Grand Bazaar mereka familier dengan wajah Indonesia atau Malaysia. Sapaan Malaysia.. Malaysia!! atau Indonesia! Cukup sering terdengar saat kita melewat depan-depan toko di Grand Bazaar.
Pasar ini sudah berdiri sejak tahun 1455, penanda tahun berdiri bisa kita lihat di pintu masuk utama. Di sini semua barang jenis bisa dibeli, kue-kue khas Turki dengan bentuk yang menggoda, jilbab phasmina yang lagi ngetren di kalangan remaja Indonesia saat ini bisa didapat di Grand Bazaar. Harga? Jangan tanya, tentu mahal karena di negeri yang asli dan dari perajin langsung.
Tapi, anda bisa mencari harga yang murah di lorong-lorong sempit, nah harga barang bisa nego kualitas sama dengan yang dipajang di etalase toko-toko di jalur utama Grand Bazaaar. Jika duit cukup tebal, anda bisa bermanja-manja belanja tanpa harus menawar. Tetapi, tidak salah jika coba membanding tiga sampai lima toko. Nah di toko terakhir, bisa mendapat harga yang cocok.
Biasanya, pelayan akan menawari anda minum atau mencicipi sesukannya, anda akan dibuat betah di dalam toko. Tawaran demi tawaran dibuka setelah satu barang selesai kita beli. Seni berjualan seperti ini,rata dipraktikan semua pedagang di Grand Bazaar. Bahkan mereka tak segan akan memijit-mijit punggung kita sambil mengajak bercerita tentang Indonesia.
Meriahnya Malam di Turki
BERANJAK malam, Istambul semakin ramai hilir mudik orang bepergian. Cafe-cafe disesaki pengunjung. Makan di Turkimemang unik, menu pembuka, menu utama, dan penutup menjadi ciri khas bagaimana orang Eropa memanjakan perutnya.
Tentu, akan terkejut kali pertama makan di Istanbul. Lidah di hari pertama jelas tak bersahabat. Menu pembuka hanyalah sup hangat berbahan, sayuran, dan kacangan-kacangan. Roti yang disajikan, kita celup ke dalam semangkuk sup yang rasanya agak tawar. Tak berasa, alias tak nendang di lidah orang Indonesia.
Di Istanbul juga ada cafe-cafe ternama tersohor seperti Starbuck, sedikit mau murah bisa kongkow di lorong-lorong menikmati kopi Turki. Mau mewah, gaul bersama anak muda melihat gaya bartender menyajikan minuman bisa singgah ke Hardrock Cafe, di Beyoglu, Istanbul.
Remaja-remaja Turki terlihat asyik nongkrong, musik bergenre rock menghentak keras di setiap sudut melalui layar televisi. Di sudut bar pasangan muda-mudi begitu menikmati minuman yang mereka pesan. Gaya Eropa nampak kental di kota ini. Malam Istanbul begitu gemerlap, wanita muda juga terlihat menikmati rokok melawan dinginnya malam di kota seribu Masjid itu.
Pesona negeri Turki memang tengah jadi sorotan dunia, negeri berpenduduk mayoritas muslim ini digadang-gadang mampu menjadi harapan baru bagi bangkitnya dunia Islam. 
Gebrakan-gebrakan ke arah itu, terlihat dari berbagai kebijaan pemerintahan saat ini. Tentu,Turki bukan sedang mencari masa keemasaanya, tapi mencoba menapaki kembali masa gemilang yang pernah mereka raih dahulu dalam kendalai Kekhalifahan Utsmani.(arif ramdan)

Bosphorus, Eksotisme Asia dan Eropa

TURKI itu menarik untuk dikunjungi, kita bisa menikmati indahnya dua benua; Asia dan Eropa. Melintasi selat Bosphorus, kedua belahan benua ini begitu indah sejauh mata memandang.
Selat Bosphorus menghubungkan Laut Marmara dengan Laut Hitam. Selat ini memiliki panjang 30 KM, lebar maksimum hanya 3.700 meter dan minimum 750 meter. Kedalaman selat ini dari 36 meter sampai 124 meter.
Sepanjang perjalan melintas di selat ini, pada sisi kanan kiri kita bisa merasakan sensasi dan keindahan kehidupan Istanbul. (BACA: Kumanda Azan di Aya Sophia)
Selat Bosphorus juga menjadi saksi bagaimana Al Fatih berusaha masuk menaklukan Konstantinopel. Saat itu, pasukan Romawi memasang rantai sepanjang selat sehingga Al-Fatih dan tentaranya tidak bisa memasuki pertahanan Romawi. 
Namun, Al-Fatih tak kalah jenius, ia 
memindahkan armada kapal perangnya ke jalur darat dan mendorongnya hingga melewati rantai bawah laut. Al Fatih pun berhasil menembus jantung Romawi.
Bosphorus adalah saksi kedigjayaan Byzantium, Kekhalifahan Utsmani, dan Republik Turki.